Muslim Amerika Serikat ingin menjadikan Islam Nusantara ala NU yang ramah sebagai counter opinion bagi Islam di negaranya. Pasalnya, pemahaman Islam di AS berbeda dengan Indonesia.

Menurut Direktur The Wahid Institute Zannuba Arifah Chafsoh Rahman (Yenny Wahid) muslim di AS adalah minoritas dan sering disalahpahami. Persepsi mereka selama ini terhadap Islam seperti ditunjukkan ISIS.

“Karenanya mereka ingin menggunakan Islam Indonesia sebagai counter opinion bagi pemahaman yang dipersepsikan seperti teroris,” ujarnya seusai mendampingi para delegasi Islam AS ke PBNU, Jumat (1/5/15) siang. Mereka ditemui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Melalui Islam Indonesia, lanjut putri KH Abdurrahman Wahid ini, mereka ingin menunjukkan kepada publik AS bahwa praktik Islam jika melihat di Indonesia tidak seperti yang mereka persepsikan.

Pengurus Pimpinan Pusat Muslimat NU ini menambahkan, dengan demikian mereka mengundang muslim Indonesia untuk mengedukasi publik Amerika bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang toleran dan ramah. Dan mereka melihat model Islam seperti itu hanyalah ada di Indonesia.

Tak heran, mereka mendorong Islam Indonesia agar bisa memimpin dalam wacana menyebarkan perdamaian terutama di kalangan umat Islam dunia, khususnya, dan di dunia secara umum.

Menurut Yenny para tamu yang datang itu rata-rata warga keturunan Arab, Palestina, Pakistan, dan Turki. Namun, mereka telah menjadi warga resmi AS. Jadi, mereka adalah warga keturunan muslim. Orang tua mereka yang dulunya hijrah ke Amerika.

Di antara mereka adalah Jihad Turk, profesor dan imam masjid. Ia bisa bahasa Arab dan Persia. Syarik Zafar, utusan Menlu AS tentang dunia Islam. Musthafa Tamyiz, orang yang sangat berpengaruh karena posisinya sebagai konsultan politik di Amerika. Dia banyak membantu terpilihnya para anggota kongres maupun politisi di sana.

Terinspirasi Gus Dur
Ditanya kenapa para tokoh muslim Amerika memilih The Wahid Institute sebagai mitra, Yenny menjawab, mereka merasa WI selama ini memang memperjuangkan Islam Nusantara seperti yang dimulai dan digagas Gus Dur. “WI dipandang selama ini konsisten memperjuangkan Islam Nusantara seperti yang digagas Gus Dur,” ujarnya.

Pihak PBNU sangat menyambut baik kunjungan para tokoh muda Islam Amerika ini. Mereka juga antusias sekali mendengarkan komitmen Kiai Said untuk menjadikan Islam Nusantara sebagai kiblat dunia Islam.

Terkait bentuk kerja sama, Yenny mengungkapkan isi pertemuan dengan Kiai Said soal pertukaran pelajar dari kedua pihak. “Saya sampaikan ke mereka, kalau mau membawa anak-anak Amerika ke pesantren monggo, silakan. Mau tinggal beberapa bulan bisa. Tak hanya anak usia SMP, siswa SMA hingga mahasiswa pun bisa aja,” ujarnya.

Mereka kan ada yang punya kampus segala, kalau mau belajar di sana juga bisa. Ada juga ide tentang belajar kewirausahaan yang dilakukan oleh para bisnisman muslim di sana. Sasarannya adalah para pemuda muslim di mana saja,” pungkasnya.

Sumber: www.nu.or.id

Go to top