Allah berfirman, maka orang2 yg berbuat dzalim mengganti ucapan yang tdk disampaikan kpd mereka. maka Kami akan menurunkan siksa dari langit kpd mereka sebab perbuatan fasiq mereka. syekh abdul qadir aljailany menafsirkan orang yang dzalim yaitu orang yang keluar dari menjalankan perintah Allah, padahal semua perintah Allah itu memiliki peranan sangat penting yaitu untuk memperbaiki sikap dan perilaku manusia. akan tetapi manusia yang masih diliputi hawa nafsu akan melakukan kedzaliman dengan memlintir peritah Allah. seperti shalat lima waktu adlh perintah Allah yang harus dilakukan namun krn masih terbelenggu hawa nafsu seringkali muncul banyak alasan yg dibuat2 sebagai pembenaran atas hawa nafsunya. karena itu tidak dibenarkan bagi seorang salik yang menuju Allah meninggalkan perintah Allah (tarikus syariah) dengan dalih apapun. jika ada seorang salik meninggalkan perintah Allah dengan mengikuti hawa nafsunya maka konsekwensinya Allah akan menurunkan siksa dari langit yaitu kegelapan hati sehingga terpedaya oleh hawa nafsunya dan akhirnya menjadi orang yg fasiq. semoga kita dijauhkan dari sifat fasiq dan terlepas dari tipu daya hawa nafsu.

Tafsir Sufistik: Surat al-Baqarah, 58. Allah berfirman, ketika kami berkata, masuklah kamu di kampung ini, makanlah dari hasil buminya sesukamu dengan enak, dan masuklah ke dalam pintu dengan bersujud, dan katakanlah, ampunilah kesalahan niscaya kami akan mengampuni segala dosa2mu dan kami akan menambahkan rahmat kpd orang2 yg berbuat baik. tafsir sufistik ayat tersebut sbb: masuklah kampung ini ditafsirkan oleh syekh abdul qadir aljailany yaitu kampung suci para nabi dan para wali, maksudnya bahwa para nabi dan para wali adlh orang2 yg disucikan oleh Allah sehingga mereka memperoleh limpahan ilmu ladunni dan ilmu hakikat krn jiwanya tlh suci dari segala hawa nafsu. krn itu, para salik yg memperoleh percikan ilmu hakikat dari para wali, maka syukurilah,nikmatilah dan amalkanlah karena ini makanan ruhani yg sangat lezat. setelah itu masuklah ke dalam pintu2 wilayah syariat dengan penuh adab dan rendah hati. sikap meminta ampun kepada Allah terus dilakukan supaya terhindar dari penyakit merasa suci. jika demikian, niscaya Allah akan menambah anugerahnya bisa mengamalkan ihsan scr nyata yaitu senantiasa memandang Allah sehingga termasuk golongan muhsinin.
Tafsir Sufistik: Surat albaqarah 57. Allah berfirman, makanlah makanan yg baik dari rizki yg telah Aku berikan kepadamu, mereka tidak berbuat dzalim kepdaKu akan tetap mereka telah berbuat kedzaliman terhada dirinya sendiri. ayat tersebut menjelaskan: Pertama, kita diperintahkan utk makan makanan yang halal baik halal secara lahiriyah maupun batiniyahnya. halal lahiriyah maksudnya halal zat makanannya dan proses mencarinya menggunakan cara2 yg halal. halal batiniyahnya maksudnya saat makan diawali dg membaca basmallah yg disertai mengingat Allah bahwa makanan yg kita makan adalah rizki dari Allah, sehingga kita akan semakin bersyukur kepada Allah. Kedua, menghilangkan keakuan merasa bisa mencari rizki dg kekuatan sendiri karena Allah sdh menjelaskan bahwa makanan yang dimakan itu rizki dari Allah, namun prosesnya sampai di tangan kita harus dijemput melalui usaha dan ikhtiar sesuai profesi masing2. jika kita sdh yakin bahwa semua rizki dari Allah dg menghilangkan keakuan diri kita maka penyakit pelit dan sikap sombong akan terlepas dari diri kita dan akan tumbuh benih2 syukur dapat menikmat rizki yang diberikan Allah kepada kita. Ketiga, jika sikap kita melupakan Allah sbg pemberi rizki sehingga muncul sifat pelit dan sikap sombong karena merasa memiliki kemampuan mencari rizki. sikap yg demikian, bukan berarti mendzalimi Allah tp sesungguhnya ia mendzalimi diri sendiri. orang yg demikian akan rugi sendiri karena tdk pernah ada rasa syukur, akan merasa kurang dan bersikap sombong. Namun pada saat Allah menunjukkan sifat kemaha kuasaannya kpd mereka dengan dicabut kesehatannya dg diberikan berbagai macam penyakit, sumber rizkinya ditutup oleh Allah usahanya bangkrut, atau dipecat dari tempat kerjar maka pada saat itu baru sadar bahwa dirinya tdk berdaya dan tdk mempunyai kekuatan apa2. Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba yag pandai bersyukur.
Kajian Hadis: diriwayatkan Abi Said al-Khudiriyyi RA sesunguhnya Rasulullah SAW bersabda, terjadi pada umat sebelummu ada seorang laki2 yg tlh membunuh 99 orang, lalu dia bertanya kpd ahli ilmu di lingkungannya untuk bertaubat, ia ditunjukkan spy datang kpd biarawan ia bertanya, dirinya tlh membunuh 99 orang apakah bisa bertaubat ? Dijawab oleh biarawan, tidak bisa, lalu biarawan tsb dibunuh jadi genap hitungan 100 orang yg sdh dibunuh. Kemudian laki2 tsb bertanya lagi kpd ahli ilmu di lingkungannya, lalu ditunjukkan spy mendatangi seorang ulama yg alim. Lalu bertanya, saya sdh membunuh 100 orang, apakah saya bisa bertaubat ? Dijawab, iya bisa bertaubat. Kemudian ulama yg alim tersebut menunjukkan kpd laki2 tersebut supaya mendatangi sebuah perkampungan, disana banyak orang yang menyembah Allah maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan jangan kembali lagi ke kampung asalmu karena itu kampung sangat buruk. Kemudian laki2 tsb mengikuti arahan ulama, lalu pergi menuju tempat yang dituju, namun di pertengahan jalan malaikat maut menjemput ajalnya, sehingga terjadi perdebatan di antara malaikat rahmat dan malaikat azab memperebutkan laki2 tersebut. Menurut malaikat rahmat, dia sdh melangkat menuju Allah. Malaikat Azab menjawab, dia sama sekali tdk pernah berbuat kebaikan. Kemudian datanglah malaikat untuk menjadi penengah di antara keduanya. Malaikat tsb berkata, sbg solusinya maka diukur perjalanan laki2 tersebut sejak melangkah menuju tempat pertaubatan mana yg lbh dekat. Setelah diukur ternyata lebih dekat satu jengkal menuju tempat yg dituju. Setelah itu, malaikat rahmat mengambil laki2 tersebut untuk diampuni segala dosa masa lalunya dan dilimpahkan rahmat kpdnya. (HR. bukhari muslim). Pelajaran penting dari hadis ini bahwa Allah maha pengampun thdp dosa sebesar apapun yg dilakukan oleh hamba2Nya, namun pada saat hamba yg berlumuran dosa melangkah utk bertaubat niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya.
Kajian Tafsir Sufistik: Surat al-Baqarah: 55. Ketika kaum bani Israel berkata kpd Musa, "Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara nyata. Lalu kamu disambar halilintar dan kamu melihatnya. Dlm ayat tersebut dijelaskan bahwa bani israel itu umat yang ngeyel, meminta dan menuntut aneka macam kpd Nabi Musa, tapi setelah dituruti tetap saja mereka tdk beriman. Terkait tafsir ayat di atas bahwa sifat ngeyel bani israel juga bisa terjadi pada diri kita. Kita sdh diberi berbagai ilmu oleh guru kita, terkadang masih meminta ilmu2 yg lain toh akhirnya tdk diamalkan juga. Bahkan menuntut Guru utk membuktikan adanya wujud Allah secara nyata, padahal secara teori ilmu sdh dijelaskan, namun tdk pernah dipraktekkan. Jika demikian sikap seorang murid, maka Allah akan menunjukkan kemaha perkasaan-Nya dg menurunkan ujian berat yg meluluh lantakkan egonya, sehingga saat itu muncul kesadaran ketidak berdayaan dirinya dan nampak nyata keperkasaan Allah azza wajalla. Semoga kita termasuk orang2 yg dibimbing oleh Allah dalam meniti jalan yg lurus.
al-Rabbani
Mohon bantuan dan doa semoga pembangunan masjid dan asrama santri dapat berjalan lancar. Bantu donasi dengan klik… https://t.co/RvOwQJLTTq
al-Rabbani
Trm ksh @baznasindonesia yg sdh berpartisipasi dlm pengecoran lantai 2 gdg madrasah diniyah alrabbani. Baznas nyata… https://t.co/n7cKGnfT0o
Follow al-Rabbani on Twitter
Go to top