Ahli Syariat vs Ahli Hakikat: Terjadinya konflik antara ahli syariat dan hakikat dipicu oleh perbedaan sudut pandang dlm melihat obyek. Konflik ini sering dipengaruhi kepentingan politik sehingga kelompok ahli hakikat selalu menjadi korbannya. Di kesultanan Aceh Nur al-Din al-Raniri selaku Mufti pernah mengeluarkan fatwa yang menyesatkan ajaran hakikat yang dibawa Hamzah Fansuri dan Sham al-Din al-Sumatrani, kitab-kitab hakikat dibakar dan para pengikut yang tidak taubat dihukum mati. Pada zaman Pakubuwana II terjadi konflik antara Syekh Mutamakkin (ahli hakikat) dan Katib Anom Kudus (ulama syariat). Syekh Mutamakkin dituduh menyebarkan ajaran sesat dan diputuskan hukuman mati, namun akhirnya hukuman mati tersebut dianulir oleh Raja Pakubuwana II setelah terjadi dialog antara Syekh Mutamakkin dg Raja, terbukti ajaran Syekh Mutamakkin tdk sesat. Saat ini, juga terjadi konflik antara Syekh Arifin (ahli hakikat) dan MUI sumut (ahli syariat). MUI sumut mengeluarkan fatwa menyimpang thdp ajaran Syekh Arifin. Fatwa tersebut dijadikan alat oleh kelompok Islam garis keras (FUI, TPM) untuk memenjarakan Syekh Arifin. Padahal dlm pandangan JATMAN (organisasi tarekat mu'tabarah dibawah NU) menjelaskan ajaran Syekh Arifin sama sekali tidak menyimpang. Ternyata aroma politik sangat kuat tercium dibalik masalah ini.
Go to top